Search This Blog

Saturday, 8 April 2017

Memburu Jejak TKP Lewat Media Belajar Bersama Dokter Forensic



Bekerja bersama dokter forensic dalam mengungkap suatu kasus adalah pengalaman paling berharga dalam hidup saya berkenaan dengan mayat apalagi pada saat dilakukan autopsi mayat.Sangat-sangat tidak terbayang dalam pikiran saya bisa satu panggung bersama dokter jika tidak bertugas dibagian INAFIS.Untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman forensic butuh sekolah atau pendidikan khusus forensic.Namun dengan tugas dibagian INAFIS banyak ilmu yang saya peroleh mulai dari mengenal bentuk organ tubuh manusia baik dalam maupun luar,penyebab kematian korban sampai pada istilah-istilah kedokteran.
Bukan hanya teori dokter forensic saja yang saya dapatkan, tapi pejelasan uji coba penyebab kematian juga saya dapatkan seperti kasus pembunuhan yang diakibatkan oleh bekapan yang erat hubungannya dengan organ dalam paru-paru,bekas pukulan benda tumpul walaupun korban sudah lama meninggal namun tulang bagian organ dalam tetap akan meninggalkan bekas, kemudian tusukan juga dan masih banyak lagi ilmu yang saya peroleh.
Didalam tkp ada begitu banyak barang bukti yang bisa dijadikan analisa/dikembangkan untuk proses pembuktian mulai dari barang milik korban seperti perhiasan atau identitas korban, serta bagian tubuh korban atau bahkan milik pelaku dan lain sebagainya.Kesemua barang bukti yang ada pada tkp tersebut dapat dijadikan bukti setelah dilakukan penyisihan oleh INAFIS mana yang masuk dan ada kaitannya dengan kasus yang terjadi.
Prinsip yang kami pegang “Tidak ada tkp yang tidak meninggalkan jejak,sepintar,serapih apapun tkp tetap akan meninggalkan jejak”. Prinsip inilah yang kita junjung dan kita laksanakan guna mengembangkan kasus tersebut sesuai “teori segitiga”. Pembuktian segitiga adalah hubungan timbal balik antara pelaku,barang bukti dan saksi korban atau adanya persesuaian yang saling berhubungan.


Berdasarkan penjelasan diatas, panduan tersebut bisa diambil atau dijadikan pegangan oleh penyidik yang bertugas dibagian olah tempat kejadian perkara dalam hal ini INAFIS untuk memperkirakan berapa lama korban meninggal ketika mendatangai dan melihat kondisi korban di TKP.Hasil pengamatan tersebut bisa dihubungkan dan di compare pada saat olah tkp dimana barang bukti yang ditemukan dan kondisi posisi korban pertama kali dilihat dengan menggunakan ukuran/meteran.Begitu pentingnya posisi asli tkp sehingga tidak diperbolehkan untuk bergeser sebelum dilakukan olah tempat kejadian perkara oleh INAFIS.

Tuesday, 4 April 2017

Ceceran Darah dan Tiang Pagar jadi Petunjuk Pengungkapan

“Locard Exchange Principle adalah suatu prinsip yang menyatakan bahwa pelaku kejahatan akan membawa sesuatu ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pasti akan meninggalkan jejak yang mana hal itu dapat dijadikan sebagai bukti forensic” (Dr Edmond Locard (1877-1966) ). Prinsip inilah yang selalu saya pegang, bahwa suatu kehatan akan terungkap nantinya dengan bukti dan petunjuk yang ditemukan oleh petugas karena tidak ada kejahatan yang sempurna dan tidak meninggalkan bukti/jejak.
Dari berbagai lokasi kasus pembunuhan yang pernah saya datangi,kasus dilokasi ini lah yang paling berkesan buat saya, dimana korbannya terdapat ibu dan anak yang menjadi korban pembunuhan dalam keadaan tidur dan mati dengan cara menggenaskan, lokasi tkp juga cukup sulit  dimana tidak dimungkinkan banyak anggota bisa masuk, apalagi saat melakukan evakuasi tersangka dan rekontruksi harus menggunkan sampan agar gambar yang diambil bagus. Sebagai manusia biasa wajar kalau saat melakukan pemeriksaan tkp timbul rasa haru atau iba terhadap korban, apalagi saat membayangkan sebelum terjadinya kasus pembunuhan tersebut.
Sebagai petugas saya harus bersikap Profesional dalam bertugas untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dalam mencari siapa pelaku sebenarnya. Mulai dari melakukan pemeriksaan luka pada korban serta barang bukti yang menjadi petunjuk pengungkapan. Rumah yang menjadi tempat,terjadinya kasus pembunuhan terbuat dari kayu berlantai dua dengan kondisi miring bahkan rapuh sehingga tidak dimungkinkan semua anggota bisa masuk karena ditakutkan akan roboh dan rumah tersebut berada diantara padatnya pemukiman penduduk dipinggir sungai. Selanjutnya saya masuk lewat pintu depan yang sudah terpasang garis polisi dan perlahan-lahan mengamati seisi rumah mulai dari sisi sudut ruangan lantai dasar sampai menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu agar jangan sampai ada hal-hal penting yang terlewatkan.
Dari pandangan yang saya lihat, tanda-tanda terjadinya kasus pembunuhan tersebut sudah mulai terlihat /terasa dari tiap tetes darah dan bau anyir darah yang ada pada lantai dasar rumah sampai ke anak tangga menunju lantai dua kamar terjadinya kasus pembunuhan bahkan dijalan / jembatan di samping rumah yang diperlihatkan oleh warga sekitar.Dan benar saja 2(dua) sosok korban saya temukan sudah tergeletak diatas tempat tidur yang korbannya perempuan dewasa serta anak kecil dan pada saat kejadian dilokasi suami korban tidak berada dilokasi/dirumah yang menurut kabarnya sedang berada di luar kota karena pekerjaan.Sesuai prosedur olah tkp,jika ditemukan korban di lokasi wajib hukumnya untuk memeriksa kondisi korban apakah masih ada tanda-tanda kehidupan atau tidak kemudian luka pada korban.
Pemeriksaan awal saya lakukan pada peremuan dewasa yang tak lain adalah seorang ibu,pada tubuh korban saya temukan luka gorokan dileher yang cukup panjang dan dalam,kemudian luka tusuk pada perut bagian tengah serta pada perut sebelah kiri hingga keluar isi perut lemak kulit dan luka pada lengan kirinya dengan posisi terlentang dimana posisi badan sampai kepala diatas tempat tidur sedangkan pinggang sampai ke kaki berada dilantai yang menandakan korban sempat melakukan perlawanan terhadap pelaku. Selanjutnya pemeriksaan kepada anak perempuan kecil disamping ibunya dengan kondisi masih menggunakan kaos dalam putih dan celana pendek posisi terlentang dengan mata yang terbuka seperti tidak terjadi apa-apa. Ditubuhnya saya temukan luka gorok bagian belakang leher yang cukup dalam, punggung dan luka bagian depan dada.
Hasil pengamatan pada lantai dua dimana terdapat korban pembunuhan, bau darah segar sangat kuat tercium, ceceran darah dilantai karpet pelastik dan tempat tidur sangat jelas terlihat apalagi pada selimut yang digunakan korban saat tidur bahkan percikan darahnya pun jelas terlihat pada dispenser dan magic jar disamping tempat tidur. Saya paham betul percikan darah segar yang terlihat  itu adalah hasil ayunan/kibasan dari senjata pelaku yang digunakan untuk membunuh ibu dan anak ini.
Tanpa berlama-lama mulailah saya membuka peralatan olah tkp untuk mencari tanda-tanda bekas yang ditinggalkan pelaku baik pada saat masuk maupun keluar. Pencarian tersebut saya mulai dari membuka laci dan lemari pakaian korban dilantai dua untuk memastikan apakah perhiasan korban masih ada atau tidak, kemudian mencari sidik jari pelaku yang tertinggal diberbagai tempat dan barang bukti lain yang ada hubungannya dengan kejadian tersebut serta ceceran darah pada lantai.
Pandangan mata saya terhadap setiap bagian sisi ruang tak pernah saya lewatkan,dan benar saja ada beberapa tetesan darah kental pada lantai dua yang menghubungkan tempat menjemur pakaian dan posisinya disudut dibawah pintu kemudian darah tersebut berhenti diluar..............Bagaimana kisahnya silahkan ikuti dalam "Memburu jejak TKP" dengan kisah-kisah lain yang menarik.

Sunday, 2 April 2017

Detective Alam

Detective Alam / Membumi

Pemanfaatan teknologi dalam pelaksanaan tugas memang sangat membantu terutama dalam pemecahan kasus, namun kita jangan selalu ketergantungan pada alat dan teknologi tersebut. Adakalanya teknologi tersebut tidak bisa digunakan di lokasi atau tempat kejadian perkara, nah disaat itulah kita menggunakan ilmu alam atau membumi yang bisa menyatu dengan alam. Seperti perpindahan binatang ular secara berkelompok / masal itu bukan perpindahan biasa namun ada hal lain dibalik itu seperti adanya gempa atau bencana alam. Hewan lebih sensitif terhadap alam sekitar yang mengancam hidunya.

Salah satu contoh sample inilah yang seharusnya dimiliki seorang detective atau Crime Scene Investigator yang berada di lokasi dan bisa melihat keadaan secara sensitif. segala sesuatu yang diciptakan Oleh Tuhan baik terhadap manusia, hewan atau bahkan alam memiliki hubungan erat yang saling berhubungan. Salah satu bagian saja mata rantainya rusak maka akan merusak ekosistem lain.

Kenali sifat dan kebiasaan ekosistem hewan atau alam sekitar maka itu semua akan menjawab dan menjadi petunjuk sebuah peristiwa yang terjadi bukan begitu saja namun memiliki sebab akibat. Dan itu yang biasa saya sebut Detective Alam / Detective Membumi

Tidak ada hewan atau makhluk dibumi ini diciptakan sia-sia oleh Tuhan, semua memiliki manfaat dan mata rantai yang saling berhubungan tinggal sejauh mana kita melihat dan mempelajarinya. Masing-masing hewan memiliki cara hidup dan berkembang yang berbeda sesuai ekosistemnya. Binatang jorok pun ternyata memiliki manfaat seperti lalat yang mengurai makanan sisa atau bahkan bangkai sebelum hancur. Nah ilmu itu yang saya gunakan dan saya pelajari secara mendalam apa kebiasaan dan bagamana cara hidupnya

Bungkusan Nasi Dalam Memburu Jejak TKP

"Memburu Jejak TKP" dalam kisah Bungkusan Nasi
Tidak ada kejahatan yang sempurna dan tidak meninggalkan bukti/jejak, prinsip inilah yang selalu saya pegang ketika berada dilokasi tkp (Locard Exchange). Pertanyaannya adalah seberapa cepat,seberapa lama dan seberapa rusak tkp tsb. Jika berbicara tkp tak jarang kami selalu mengurut dada dan menarik napas panjang  karena kecewa akan lokasi tkp yang kami datangi. Ntah itu disengaja atau tidak yang jelas akan berpengaruh terhadap hasil pengungkapan.
Untuk kasus yang satu ini memang butuh kejelian dan kesabaran,dimana tkpnya rusak parah diakibatkan oleh banyaknya masyarakat yang masuk dan parahnya lagi bercampur air dari sisa pemadam kebakaran, mengenai saksi sangat - sangat minim bahkan tetangga sekitar saja yang tinggal dekat dengan korban tak mengetahui ada seseorang yang datang apalagi dimintai keterangan seputar pribadi korban jelas mustahil.
Untuk sampai kelokasi tkp saja kami harus menggulung celana jeans karen jalan yang becek dan di genangi air pemadam kebakaran ditambah beratnya peralatan tkp yang harus kami bawa dengan cara menggendong dan mobil juga terpakir lumayan jauh dari pinggir jalan. Lokasi tkp sudah di penuhi masyarakat yang penasaran terhadap tkp yang baru saja terjadi apalagi saat melihat kedatangan kami dilokasi jepretan kamera tak henti-hentinya diabdikan terhadap moment saat itu.
Sebagai petugas forensik lapangan tentu saya harus tanggap melihat keadaan dan suasana dalam tkp, apalagi terdapat korban yang hitam di akibatkan oleh kebakaran. Ada begitu banyak barang bukti dan deduksi yang saya temukan lewat pengamatan di lokasi tkp yang pastinya membuat saya bertanya-tanya dan segera ingin membuktikan kebenarannya..........
Penasaran akan kisah selanjutnya silahkan ikuti ceritanya dalam buku "Memburu Jejak TKP"

Saturday, 1 April 2017

Memburu Jejak TKP

Kisah "MEMBURU JEJAK TKP"

Dibuku kedua ini penulis mengajak dan berbagi pengalaman dalam bidang olah tempat kejadian perkara khususnya kasus pembunuhan atau penemuan mayat. Mengungkap kasus demi kasus dengan menggunakan metode Scientific Crime Investigation ( SCI ) bahkan dengan segala petunjuk atau barang bukti yang mungkin buat sebagian orang tidak berguna dalam proses pengungkapan,seperti kisah detective Sherlock yang terkenal dengan "deduksinya".Kisah pengungkapan kasus pembunuhan ini tak jarang membuat haru petugas ketika berhadapan/melihat korban pembunuhan, namun sebagai petugas Kepolisian harus bersikap profesional dan bisa menempatkan diri.Kejelian dan sensitifitas terhadap TKP wajib dimiliki setiap petugas bagaimana melihat situasi TKP apakah benar-benar terjadi ataukah sebuah rekayasa.

Pengungkapan kasus ini hampir tak jauh beda seperti kisah-kisah fiksi polisi detective, dimana korban yang ditemukan ditempat-tempat tertutup dan bahkan minim saksi apalagi barang bukti tapi niat baik selalu diridhoi ALLAH SWT. Ada prinsip dalam menuntut ilmu yang penulis pegang sampai sekarang “Jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi lihatlah apa yang akan disampaikannya”karena pengalaman adalah guru yang paling penting dalam menambah pengetahuan.Umur dan pendidikan bukanlah jaminan untuk seseorang dianggap hebat atau mahir tapi pengalaman yang secara terus meneruslah guru yang paling bagus.

Didalam buku ini penulis membahas bagaimana pengalaman menjadi anggota INAFIS dan berhadapan dengan mayat busuk,berulat dan bahkan harus kekamar jenazah sendirian hanya untuk mengambil sidik jari korban dan memeriksa tanda-tanda kematian korban. Memperkenalkan sebagian alat-alat yang digunakan Polisi CSI, metode-metode dalam pencarian barang bukti serta pengertian barang bukti menurut parah ahli serta banyak lagi.

Melalui buku ini saya ingin masyarakat lebih memahami tugas kami sebagai team olah tkp yang selalu siap kapanpun dibutuhkan sebagai garda terdepan dalam proses penyelidikan dan penyidikan dalam mengungkap suatu peristiwa pidana,sehingga antara masyarakat dan polisi dapat menjadi mitra dalam memerangi kejahatan.Kami tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan dari masyarakat sebagai pemberi informasi.Sekecil apapun informasi yang kami dapat dari masyarakat sangat penting dalam pengungkapan kejahatan.

Dengan buku ini juga penulis berharap, masyarakat akan menjadi paham bagaimana pentingnya sebuah keaslian TKP dalam peristiwa pidana.TKP adalah gudangnya barang bukti disana banyak informasi penting mulai dari pelaku,saksi sampai pada barang bukti yang kesemuanya masuk dalam teori “segitiga pembuktian”.

Nantikan Kisahnya dibuku kedua " Memburu jejak TKP" sebagai bentuk dedikasi penulis selama bergelut di bidang TKP

Friday, 2 December 2016

Membuat Mayat Bicara Versi Detective




Kalau lihat foto ini jadi teringat saat-saat kebersamaan bersama dokter forensic Edi Syahputra Hasibuan dalam tempat kejadian perkara. Bagaimana mengungkap tabir peristiwa kejahatan kasus pembunuhan yang dibuat seolah olah murni kasus kecelakaan.
Kasus ini mirip dalam serial Detective Conan yang dibuat oleh Aoyama Gosho yang booming dan banyak penggemarnya.
Insting dan naluri dilokasi kejadian sangat2 perlu digunakan untuk mencium aroma yang ada di lokasi, tatapan mata dari setiap sudut penjuru rumah tak pernah henti dan putus hanya untuk melihat segala kemungkinan yang ada terjadi.
Banyak ilmu dan pengalaman didapat bersama team baik bersama dokter forensic maupun anggota lainnya dari tiap2 lokasi yang di kunjungi. 
Kebenaran tetaplah kebenaran bagaimanapun itu akan muncul kepermukaan dalam istilah yg biasa kami kenal yaitu " tidak ada kejadian atau peristiwa yang sempurna dan tidak meninggalkan jejak ".
Mungkin disinilah letak keunikan kami bagaimana membuat MAYAT/JENAZAH berbicara untuk menjelaskan siapa pelaku pembunuhnya. Percaya atau tidak dari setiap genggaman tangan mayat atau jenazah yang kaku hingga lemas kami pegang tersimpan makna pengharapan untuk membuka tabir peristiwa sebenarnya.
Yang jelas doa yang kami panjatkan kepada SANG PENCIPTA adalah agar diberikan segala kemudahan segala urusan berkenaan dengan kasus ini.
Tidak ada yang mustahil dalam hidup ini jika kita mau berusaha dan berdoa dlm bekerja segalanya kita serahkan kepada ALLAH SWT


Sang Pemburu Mayat





Tidak mudah memang memahami pekerjaan ini, tapi disinilah letak bedanya kami Forensic Lapangan (INAFIS) dengan satuan yg lain yg bersentuhan langsung dengan tempat kejadian.  Hujan, panas, bau busuk dan berlendir bahkan ditambah hiasan belatung/ulat yang bergerak bebas diantara tubuh jenazah yang akan membuat muntah siapapun yg melihat/menciumnya dengan jarak tempuh yangg cukup jauh kami lalui bahkan hingga harus berjalan kaki sampai 4 kilo jauhnya hanya untuk mencari korban dan mengungkap jati dirinya ditambah dengan alat kerja yg berat harus kami bawa kelokasi.Cucuran keringat sudah tidak terhitung mengalir disela-sela tubuh dan membuat seragam kami basah bahkan kotor oleh lumpur atau tanah yg becek kami lalui. 





Senyum kecil terlontar dari rasa syukur kami ketika melihat korban sudah terlihat dan tiba waktunya untuk dilakukan proses identifikasi namun disekeliling banyak sorot mata yang memandang dengan sejuta pertanyaan diluar garis pembatas (police line) melihat kami ketika mengeluarkan peralatan mulai dari masker,sarung tangan,panah dan alat identifikasi lainnya.Tapi disinilah pilihan tugas yg kami senangi yg tidak semua orang mudah memahami yg benar-benar langsung bersentuhan dengan tempat kejadian. We love INAFIS.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/agunginafis/sang-pemburu-mayat_583d26962523bd810f972984
                             http://www.kalbariana.com/2016/11/pemburu-sidik-jari-mayat.html?spref=fb
                             http://www.pontianakpost.co.id/kisah-pemburu-mayat-tim-inafis-polresta-pontianak     

Sosok Inspiratif Dalam Dunia Forensic





JUAN VUSETICH ada seorang polisi hebat yang sosoknya menjadi inspirasi buat saya bagaimana mengungkap suatu kasus pembunuhan dijaman yang serba sederhana, baik alat maupun pengetahuan namun berkat kejelian dan analisanya yang cemerlang dpat mengungkap kasus pembunuhan yang saat itu cukup menjadi perhatian masyarakat......dengan metode sidik jari yang dia gunakan akhirnya pelaku pembunuhan tersebut dapat diungkap. 

Dan dia adalah Seorang polisi Argentina yang mempelajari TIPE PATERN GALTON yang pertama kali membuat identifikasi sidik jari untuk kriminal, yang berhasil membuktikan tersangka pembunuhan berdasarkan sidik jari yang ditemukan di tkp.Tahun 1891 COMISARIO DON JUAN VUCETICH menyusun file pertama bagi seperangkat sidik jari untuk keperluan kepolisian yang disebut SISTEM VUCETICH. Kemampuannya dalam mengolah dan mengungkap tempat kejadian perkara tidak diragukan lagi,JUAN VUSETICH dilahirkan pada tanggal 20 Juli 1858 di Dolores, provinsi Buenos Aires, Argentina dan meninggal pada tanggal 25 Januari 1925. Dia menciptakan Kantor Identifikasi dan kemudian antropometri Dactiloscopía Center di mana ia menjadi direktur. 

Pada 1 September 1891 Vucetich membuat kartu sidik jari pertama di dunia dengan jejak kaki dari 23 terdakwa, dan didirikan sebagai Hari Dunia sidik jari. Setelah memverifikasi metode dengan 645 narapidana di penjara La Plata pada tahun 1894 Buenos Aires Polisi resmi menetapkan ea ra . Pada tahun 1905 , ea ra sidik jari ( awalnya disebut “ icnofalangometría “ ) didirikan oleh Ibu Polisi Federal ( Federal Police masa depan Argentina ). Pada tahun 1907 Paris Academy of Sciences dilaporkan kepada ea ra bahwa metode identifikasi orang yang dikembangkan oleh Vucetich adalah yang paling akurat dikenal saat itu. Adapun Kasus pembunuhan pembunuhan tersebut yang ia hadapi/tangani yaitu kasus  pembunuhan terhadap dua orang anak laki-laki FRANSESCA ROJAS,dimana dia menuduh tetangganya telah membunuh kedua anaknya. Oleh JUAN VUSETICH, Sidik jari yang mengandung bercak darah yang ada ditemukan pada pintu dekat lokasi kejadian dimana korban ditemukan,pintu tersebut kemudian dilepas dan dibawa kepusat identifikasi bersamaan dengan sidik jari yang diduga tersangka dan ROJAS.  Sidik jari ROJAS kemudian diperiksa atau diperbandingkan dengan sidik jari latent yang ditemukan ditempat kejadian perkara ( TKP ) dan akhirnya dia mengaku membunuh kedua anaknya. 

Dengan demikian betapa pentingnya sidik jari dalam suatu perkara pidana guna menentukan siapa identititas atau pemilik sidik jari tersebut. Dia berhasil membuktikan Francisca Rojas bersalah atas pembunuhan setelah menunjukkan sidik jari berdarah yang ditemukan di lokasi kejadian adalah miliki wanita tersebut. Dari sejarah beliau bahwa kejelian dan ketelitian dalam mengolah tempat kejadian perkara/TKP itu sangat diperlukan,sekecil apapun barang bukt yang ditemukan sangat menentukan pengungkapan suatu perestiwa pidana.Saat berada dilokasi tkp kita dituntut untuk sebanyak mungkin mendapatkan barang bukti yang berada dilokasi.Masih banyak lagi sosok detective/polisi yang menginspirasi dalam dunia forensic yang bisa kita contoh.(Agung Inafis)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/agunginafis/sosok-inspiratif-dalam-dunia-forensic-tkp_57e37714719373f20c3a898c

Keberadaan & Publikasi Saat Di TKP






Masyarakat kita hampir 80 persen blm memahami arti penting tkp dan hal2 mana yg perlu di publikasikan.Keingin tahuan masyarakat terhadap suatu kejadian sangat luar biasa terkadang tidak bisa membedakan mana yg dilarang dan mana yang tidak ketika berada di lokasi kejadian.Keberadaan masyarakat pada saat berada di lokasi bisa kita lihat di media cetak maupun elektronik bahkan disekitar kita. Bayangkan jika saat kejadian, petugas kepolisian belum berada di lokasi tersebut kemudian banyak masyarakat yang masuk dan merusak tkp baik disengaja maupun tidak karena rasa ingin tahu yang besar untuk melihat dan mendokumentasikan kejadian dengan ponsel selanjutnya mempublikasikan korban tanpa sensor,yang menurut kemanusiaan tidak layak untuk ditayangkan tentu akan membuat luka atau kesedihan keluarga korban yang ditinggal.Sebagai contoh penemuan korban peristiwa laka lantas atau peristiwa pembunuhan di lokasi kejadian langsung di abadikan dan dikirim ke medsos tanpa sensor dan empati terhadap peristiwa tsb.

Keberadaan di lokasi kejadian haruslah sesuai porsinya dalam artian hanya petugas kepolisian yang mempunyai wewenang untuk masuk,bekerja dan mengumpulkan barang bukti bahkan memeriksa korban jika ditemukan berada di lokasi tkp.Kalaupun ingin mendokumentasikan suatu tempat kejadian haruslah berada diluar garis polisi atau police line dan untuk gambar yang diekspos dimana terdapat korban haruslah di blur, sesuai kode etik penayangan /pemberitaan. Hak azazi manusia harus kita junjung tinggi sehingga timbul rasa empati terhadap korban atau keluarga korban. TKP adalah pusatnya barang bukti,dimana 99% proses pengungkapan berawal dari tkp dengan kondisi tkp yang rusak,tentu akan menyulitkan petugas kepolisian. 
Marilah kita menjadi warga negara yg cerdas,bermatabat dan berempati terhadap hal2 yg mana yg perlu dan tidak diketahui publik agar tidak menjadi polemik.(Agung Inafis)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/agunginafis/keberadaan-publikasi-saat-di-tkp_57e38ed2d192730b3e90761e

Tuesday, 12 November 2013

Pertama Di Indonesia


BUKU PERTAMA DI INDONESIA YANG MEMBAHAS SEJARAH PERKEMBANGAN SIDIK JARI DARI DINASTI CINA SAMPAI KE INDONESIA, TOKOH2 YG BERJASA DLM PERKEMBANGANNYA, DASAR HUKUM DIJADIKAN BARANG BUKTI DIPENGADILAN,PEMBAHASAN POKOK LUKISAN SIDIK JARI,KOMPOSISI SIDIK…

Monday, 11 November 2013

Buku Pertama

BUKU PERTAMA DI INDONESIA YANG MEMBAHAS SEJARAH PERKEMBANGAN SIDIK JARI DARI DINASTI CINA SAMPAI KE INDONESIA, TOKOH2 YG BERJASA DLM PERKEMBANGANNYA, DASAR HUKUM DIJADIKAN BARANG BUKTI DIPENGADILAN,PEMBAHASAN POKOK LUKISAN SIDIK JARI,KOMPOSISI SIDIK JARI,TEORI SEGI TIGA PETUNJUK TEKNIS SIDIK JARI, GARIS KARAKTERISTIK DAN CONTOH PENGUNGKAPAN KASUS DLL

Thursday, 31 October 2013

Sejarah Singkat Penggunaan Sidik jari Jaman Dahulu

Sejarah penggunaan sidik jari
Melihat sejumlah cap-cap tangan di dalam gua-gua prasejarah, maka ditunjukkan bahwa minat manusia terhadap tangan sudah ada sejak jaman batu.  Demikian juga dengan penemuan arkeologis berupa tangan-tangan yang dibuat dari batu, kayu dan gading oleh peradaban-peradaban di masa lampau.  Kaisar dari Cina menggunakan cap jempolnya untuk menyegel dokumen pada tahun 3000 SM.  Informasi tentang aturan dan praktek pembacaan tangan telah ditemukan di dalam skrip-skrip vedic, Injil dan tulisan di masa awal Semitic. Aristoteles (384-322 SM) menemukan sebuah risalah pada palmistri (ilmu garis telapak tangan) di sebuah perubahan untuk dewa Hermes.  Dokter-dokter Yunani, Hypocrites dan Galen (130 SM - 200) adalah yang banyak mengetahui seputar penggunaan palmistri sebagai bantuan pengobatan.  Julius Caesar (102 – 44 SM) menghakimi orang-orangnya dengan palmistri.

Sayangnya praktek palmistri ditekan oleh pihak gereja katolik dan menyebutnya sebagai praktek pemujaan setan.  Minat banyak orang telah dikekang, sehinga gereja mulai kehilangan pengaruhnya dalam pandangan masyarakat umum.  Orang-orang terkenal seperti Paracelsus (1493-1541) dan Fludd (1574-1637) kembali mengangkat kehormatan palmistri melalui tulisan mereka. Kemudian Dr. Carl Carus, dokter untuk Raja Saxony di abad ke-19 mencocokkan telapak tangan dengan kepribadian seseorang.  Kemajuan dalam ilmu genetika, psikologi dan forensik sudah mendorong palmistri ke dalam era modern.
Dermatoglyphics adalah ilmu yang mempelajari kulit telapak tangan.  Kata tersebut terdiri dari dua kata, yakni “derma” artinya kulit dan “glyphs” artinya garis-garis yang terukir.  Apabila kita sekarang berbicara tentang Dermatoglyphs, maka sebagian besar berhubungan dengan sidik jari, meskipun banyak garis-garis lainnya pada telapak tangan.
Sidik jari kita dibentuk secara utuh dalam 16 minggu setelah pembetukan janin dari embrio, dan 5 bulan penuh sebelum kita dilahirkan sidik jari tidak akan berubah lagi dengan setiap sidik jari tersusun atas 50 sampai 100 garis.
Para peneliti menemukan epidermal ridge memiliki hubungan yang bersifat ilmiah dengan kode genetik dari sel otak dan potensi inteligensia seseorang.  Penelitian dimulai oleh Govard Bidloo pada tahun 1685. Lalu, berturut-turut dilakukan oleh Marcello Malpighi (1686), J.C.A. Mayer (1788), John E. Purkinje (1823), Dr. Henry Faulds' (1880), Francis Galton (1892), Harris Hawthorne Wilder (1897), Noel Jaquin (1958).

Beryl B. Hutchinson tahun 1967 menulis buku berjudul Your Life in Your Hands, sebuah buku tentang analisis tangan. Terakhir, hasil penelitian Beverly C. Jaegers (1974), sidik jari tercermin dalam karakteristik dan psikologi seseorang. Hasil penelitian mereka telah dibuktikan di bidang antropologi dan kesehatan.
Tahun 1901 Scotland Yard (Kepolisian Inggris) mengadopsi teknik sidik jari ke dalam penyelidikan dan identifikasi para penjahat. 

Monday, 14 October 2013

SIDIK JARI IDENTIK

IDENTIK/NON IDENTIK
Sidik jari adalah hasil reproduksi tapak jari baik yang sengaja diambil, dicapkan dengan tinta daktiloskopi, maupun bekas yang ditinggalkan pada benda karena pernah tersentuh kulit telapak tangan atau kaki. Kulit telapak adalah kulit pada bagian telapak tangan mulai dari pangkal pergelangan sampai kesemua ujung jari, dan kulit bagian dari telapak kaki mulai dari tumit sampai ke ujung jari yang mana pada daerah tersebut terdapat garis halus menonjol yang keluar satu sama lain yang dipisahkan oleh celah atau alur yang membentuk struktur tertentu.

Pada tahun 1892, seorang antropolog Inggris, Sir Francis Galton, menyatakan dalam bukunya Finger Prints (1892) bahwa sidik jari bersifat unik dan menjadi identitas permanen setiap orang. Menurut data statistik yang dihimpunnya, rasio kemungkinan munculnya sidik jari yang sama hanya 1 dari 64 juta orang. Jadi adalah hal yang mustahil untuk menemukan sidik jari yang sama. 

Dengan adanya bukti sidik jari sudah dipastikan orang yang kita curigai yang terdapat sidik jarinya di TKP memang benar berada ditempat tersebut dan setelah dibuktikan dilab crime identifikasi ternyata hasilnya identik maka dengan mudah penyidik untuk melakukan proses penyidikan lebih dalam dan mempunyai arah bagaimana mengarahkan pertanyaan/BAP tersebut kepada orang yang dicurigai sebagai pelaku sesuai dengan dalilnya Sidik jari tiap orang berbeda walaupun kembar identik dan dapat dilakukan perumusan.

Dikatakan Identik adalah apabila sidik jari itu mempunyai bentuk pokok  lukisan yang sama, sama-sama mempunyai jenis dan bentuk galton detail yang harus sama pula ( sama2 membelah, berhenti, pulau dan lain-lain ), arah galton yang sama keatas atau kebawah dsb dan yang paling penting jumlah titik persamaan harus sama 8 s/d 11 atau 12 persamaan.
























Sunday, 29 September 2013

APA ITU SIDIK JARI

Daktiloskopi (Ilmu Sidik Jari)


Daktiloskopi berasal dari dua kata Yunani yaitu dactylos yang berarti jari jemari atau garis jari danscopein yang artinya mengamati atau meneliti. Kemudian dari pengertian itu timbul istilah dalam bahasa inggris yang kita kenal menjadi “Ilmu Sidik Jari”. Kedua ilmu itu ditetapkan pada objek yang sama, garis papil, tetapi tujuan Daktiloskopi tersebut lebih dititikberatkan untuk keperluan personal identifikasi. Daktiloskopi berarti mengamati sidik jari khususnya garis yang terdapat pada ruas ujung jari, baik tangan dan kaki. Jadi, daktiloskopi berarti ilmu yang mempelajari sidik jari untuk keperluan pengenalan kembali atau untuk proses identifikasi orang.

Sidik jari adalah hasil reproduksi tapak jari baik yang sengaja diambil,dicapkan dengan tinta, maupun bekas yang ditinggalkan pada benda karena pernah tersentuh dengan kulit telapak tangan/kaki. Kulit telapak adalah kulit pada bagian telapak tangan mulai dari pangkal pergelangan sampai kesemua ujung jari dan kulit bagian dari telapak kaki mulai dari tumit sampai ke ujung jari yang mana pada daerah tersebut terdapat garis halus menonjol yang keluar satu sama lain yang dipisahkan oleh celah/alur yang membentuk lukisan tertentu. Kulit tapak terdiri dari 2 lapisan :

1. Lapisan dermal adalah kulit jangat/kulit yang sebenarnya. Kulit inilah yang menentukan garis yang ada pada permukaan kulit telapak.

2. Lapisan epidermal adalah lapisan kulit luar/garis papilar. Garis inilah yang menjadi perhatian kita untuk menentukan bentuk pokok perumusan dan perbandingan sidik jari. Jenis sidik jari dibagi menjadi tiga macam,yaitu:

1. Visible impression adalah sidik jari yang dapat langsung dilihat tanpa menggunakan alat bantu.

2. Laten impression adalah sidik jari yang biasanya tidak dapat dilihat langsung tetapi harus dengan menggunakan beberapa cara pengembangan terlebih dahulu supaya dapat nampak lebih jelas.

3. Plastic impression adalah sidik jari yang berbekas pada benda yang lunak seperti sabun, gemuk, permen, coklat. Sedangkan untuk sidik jari yang mengalami kerusakan atau cacat dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Cacat sementara adalah cacat pada bagian kulit luar (epidermal) dan garis yang cacat /rusak tersebut dapat sembuh kembali seperti semula.

2. Cacat tetap adalah cacat yang disebabkan karena ikut rusaknya garis yang sampai lapisan dermal. Sidik jari yang cacat tetap atau sementara biasnya tidak akan mempengaruhi identifikasi terhadap jari kecuali apabila sidik jari rusak sama sekali. Ada tiga dalil atau aksioma yang melandasi daktiloskopi (ilmu sidik jari), yaitu:

1. Sidik jari setiap orang tidak sama.
2. Sidik jari manusia tidak berubah selama hidup.
3. Sidik jari dapat dirumuskan dan diklasifikasikan secara matematis. Ketiga dalil yang telah dicetuskan oleh Sir Francois Galton (1822-1916) didasarkan pada hasil penelitian terhadap beribu-ribu sidik jari manusia yang telah diteliti.


Bentuk Pokok Sidik Jari

Ada tiga bentuk sidik jari yaitu busur (arch), sangkuatn (loop), dan lingkaran (whorl). Bentuk pokok tersebut terbagi lagi menjadi beberapaa sub-group yaitu bentuk busur terbagi menjadi plain arch dan tented arch, bentuk sangkutan terbagi menjadi Ulnar loopdan Radial loop, sedangkan bentuk lingkaran terbagi menjadi Plain whorl, Central pocket loop whorl, Double loop whorl dan Accidental whorl. Perbedaan utama dari ketiga bentuk pokok tersebut terletak pada keberadaan core dan delta pada lukisan sidik jarinya.




a. Loop (Sangkuatan) Loop adalah bentuk pokok sidik jari dimana satu garis atau lebih datang dari satu sisi lukisan, melereng, menyentuh atau melintasi suatu garis bayangan yang ditarik antara delta dan core, berhenti atau cenderung berhenti kearah sisi semula. Syarat-syarat (ketentuan) Loop:
1. Mempunyai sebuah delta.
2. Mempunyai sebuah core.
3. Ada garis melengkung yang cukup.
4. Mempunyai bilangan garis (Ridge Counting) >= 1 Bentuk loop terdiri dari 2 jenis, yaitu:

1. Ulnar loop : garisnya memasuki pokok lukisan dari sisi yang searah dengan kelingking, melengkung ditengah pokok lukisan dan kembali atau cenderung kembali ke arah sisi semula.

2. Radial loop : garisnya memasuki pokok lukisan dari sisi yang searah dengan jempol, melengkung di tengah pokok lukisan dan kembali atau cenderung kembali ke arah sisi semula.





b. Arch (Busur) Arch merupakan bentuk pokok sidik jari yang semua garis-garisnya datang dari satu sisi lukisan, mengalir atau cenderung mengalir ke sisi yang lain dari lukisan itu, dengan bergelombang naik ditengah-tengah. Arch terdiri dari:

1. Plain Arch adalah bentuk pokok sidik jari dimana garis-garis dating dari sisi lukisan yang satu mengalir ke arah sisi yang lain, dengan sedikit bergelombang naik ditengah.



2. Tented arch (Tiang Busur) adalah bentuk pokok sidik jari yang memiliki garis tegak (upthrust) atau sudut (angle) atau dua atau tiga ketentuan loop.





c. Whorl (Lingkaran) Whorl adalah bentuk pokok sidik jari, mempunyai 2 delta dan sedikitnya satu garis melingkar di dalampattern area, berjalan didepan kedua delta. Jenis whorl terdiri dari Plain whorl, Central pocket loop whorl, Double loop whorldan Accidental whorl.



Titik Fokus ( Focus Point )

Keberadaan titik fokus didalam sidik jari akan berperan penting dalam menentukan termasuk klasifikasi apa sidik jari tersebut. Dalam pengklasifikasian dikenal dua jenis titik fokus yaitu delta yang merupakan titik fokus luar (outer terminus) dan core yang merupakan titik fokus dalam (inner terminus). Tidak semua sidik jari memiliki titik fokus tergantung jenis/klasifikasi dari sidik jarinya. a. Core (inter terminus) titik fokus dalam Core adalah titik tengah yang terdapat pada garis sidik jari loop yang terdalam dan terjauh dari delta. Dapat dikatakan bahwa core merupakan titik tengah atau pusat dari lukisan sidik jari. Dalam menentukan letak core berlaku beberapa ketentuan dibawah ini :

1. Core ditempatkan pada garis sangkutan (loop) yang posisinya terletak paling dalam.

2. Apabila garis sangkutan yang terdalam tidak berisi garis-berakhir atau garis-pendek yang naik sampai setinggi bahu sangkutancore ditempatkan pada bahu sangkutan yang posisinya terletak lebih jauh dari posisi delta.

3. Apabila sangkutan terdalam berisi n (ganjil) buah garis-berakhir yang naik sampai bahu sangkutan core ditempatkan pada ujung garis yang paling tengah.

4. Apabila sangkutan terdalam berisi n (genap) buah garis-berakhir yang naik sampai ke bahu loop core ditempatkan pada ujung garis yang posisinya paling tengah dan terletak paling jauh dari dari posisi delta.

Namun pada prakteknya letak core tidak selalu dapat ditentukan dengan aturan-aturan yang telah disebutkan diatas. Ada dua kasus yang pada umumnya dapat mengaburkan dalam menentukan letak core ini. Kasus yang pertama adanya garis tambahan (appendage). munculnya appendage ini dapat merusak garis sidik jari bila appendage tersebut muncul disuatu garis sidik jari yang letaknya berada pada daerah melengkung antara bahu garis sangkutan. Apabila appendage ini akan dianggap sebagai garis berhenti bagi sangkutan yang tepat berada diluarnya. Kasus yang kedua adalah adanya garis loop yang terdalam (garis sangkutan) yang saling memotong satu sama lain (inter locking loop). Pada kasus ini kedua garis sangkutan yang saling memotong tersebut dianggap sebagai salah satu sangkutan dimana garis di dalamnya seakan-akan merupakan garis yang naik sampai setinggi bahu loop

Lihat panah hijau pada gambar:



b. Delta (outer terminus) titik fokus luar. Delta dalam pengertian sehari-hari adalah gugusan yang terdapat pada muara sungai air yang mengalir ke laut atau danau selalu membawa Lumpur dan batu sehingga lama kelamaan terbentuk suatu gugusan pulau yang disebut “delta”. Delta yang sebenarnya pada sidik jari adalah titik/garis yang terdapat pada pusat perpisaan garis type lines. Delta merupakan titik fokus yang terletak didepan pusat berpisahnya garis pokok (type lines). Garis pokok lukisan merupakan dua buah garis yang paling dalam dari sejumlah garis yang berjajar (paralel) dan memisah serta (cenderung) melingkupi pokok lukisan (pattern area). Pokok lukisan adalah daerah/ruangan putih yang dikelilingi oleh garis type lines yang mana ruangan tersebut merupakan tempat lukisan garis sidik jari. Pada kenyataannya tidak semua sidik jari memiliki delta tetapi ada juga sidik jari yang memiliki lebih dari satu delta.


Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam menentukan posisi delta, yaitu:

a. Delta tidak boleh ditempatkan pada garis membelah yang tidak terbuka kearah core.

b. Apabila harus memilih antara garis membelah dan kemungkinan delta, maka garis membelah yang dipilih.

c. Apabila terdapat dua atau lebih garis-garis yang memenuhi syarat delta maka pilih yang terdekat dengan core.

d. Delta tidak boleh ditempatkan di tengah-tengah garis yang berada di antara garis pokok tetapi harus ditempatkan pada ujung garis yang terdekat letaknya dengan pusat berpisahnya garis pokok.

Lihat panah Merah :




Ridge Counting

Ridge counting merupakan bilangan garis yang menyentuh atau melintasi garis bayangan yang ditarik antara delta dan core (delta dan core tidak ikut masuk dalam penghitungan bilangan garis). Garis-garis yang kelihatannya sangat halus (tipis) dicelah-celah garis-garis yang tebal disebut insipientridge, dan garis ini tidak ikut dihitung karena biasanya tidak selalu ada. Sedangkan, bagaimanapun kecilnya ukuran sebuah titik(dot), garis pendek (short ridge) harus diperlakukan garis sidik jari yang ikut dihitung, apabila sama tebalnya dengan garis-garis yang lain.

Rumus Sidik Jari (Classification Formula)

Rumus sidik jari merupakan salah satu cara identifikasi. Dalam dunia kepolisian, rumus jari digunakan sebagai cara untuk menidentifikasi seseorang. Karena sidik jari merupakan bentuk yang unik dan berbeda pada setiap orang, maka rumus sidik jari pun akan berbeda pada tiap orang. Perumusan sidik jari (classification formula ) merupakan pembubuhan tanda pada tiap-tiap kolom kartu sidik jari yang menunjukkan interprestasi mengenai bentuk pokok, jumlah bilangan garis, bentuk loop, dan jalannya garis.




























Saturday, 21 September 2013

KOMPOSISI SIDIK JARI MANUSIA DAN DALIL YANG MENGUATKAN

Sidik jari adalah hasil reproduksi tapak jari baik yang sengaja diambil,dicapkan dengan tinta, maupun bekas yang ditinggalkan pada benda karena pernah tersentuh dengan kulit telapak tangan/kaki. Kulit telapak adalah kulit pada bagian telapak tangan mulai dari pangkal pergelangan sampai kesemua ujung jari dan kulit bagian dari telapak kaki mulai dari tumit sampai ke ujung jari yang mana pada daerah tersebut terdapat garis halus menonjol yang keluar satu sama lain yang dipisahkan oleh celah/alur yang membentuk lukisan tertentu.

Sidik kulit yang termasuk sidik jari, sidik telapak, dan jejak kaki mulai terbentuk sejak janin berusia sekitar 13-19 minggu. Secara morfologis, sidik kulit ini ditentukan oleh kromosom. Pakar genetika telah membuktikan bahwa sidik kulit dibentuk dan diwariskan secara genetis.

 Kulit tapak terdiri dari 2 lapisan :
 1. Lapisan dermal adalah kulit jangat/kulit yang sebenarnya. Kulit inilah yang menentukan garis yang ada pada permukaan kulit telapak.

2. Lapisan epidermal adalah lapisan kulit luar/garis papilar. Garis inilah yang menjadi perhatian kita untuk menentukan bentuk pokok perumusan dan perbandingan sidik jari. 





Jenis sidik jari dibagi menjadi tiga macam,yaitu:

1. Visible impression adalah sidik jari yang dapat langsung dilihat tanpa menggunakan alat bantu.

2. Laten impression adalah sidik jari yang biasanya tidak dapat dilihat langsung tetapi harus dengan menggunakan beberapa cara pengembangan terlebih dahulu supaya dapat nampak lebih jelas.

3. Plastic impression adalah sidik jari yang berbekas pada benda yang lunak seperti sabun, gemuk, permen, coklat. Sedangkan untuk sidik jari yang mengalami kerusakan atau cacat dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Cacat sementara adalah cacat pada bagian kulit luar (epidermal) dan garis yang cacat /rusak tersebut dapat sembuh kembali seperti semula.

2. Cacat tetap/permanen adalah cacat yang disebabkan karena ikut rusaknya garis yang sampai lapisan dermal. Sidik jari yang cacat tetap atau sementara biasnya tidak akan mempengaruhi identifikasi terhadap jari kecuali apabila sidik jari rusak sama sekali.

 Ada tiga dalil atau aksioma yang melandasi daktiloskopi (ilmu sidik jari) dicetuskan oleh Sir Francois Galton (1822-1916) didasarkan pada hasil penelitian terhadap beribu-ribu sidik jari manusia yang telah diteliti, yaitu: 
1. Sidik jari setiap orang tidak sama walaupun kembar identik
2. Sidik jari manusia tidak berubah selama hidup.
3. Sidik jari dapat dirumuskan dan diklasifikasikan secara matematis.

Pada tahun 1892, seorang antropolog Inggris, Sir Francis Galton, menyatakan dalam bukunya Finger Prints (1892) bahwa sidik jari bersifat unik dan menjadi identitas permanen setiap orang. Menurut data statistik yang dihimpunnya, rasio kemungkinan munculnya sidik jari yang sama hanya 1 dari 64 juta orang. Jadi adalah hal yang mustahil untuk menemukan sidik jari yang sama karena hal tsb telah dibuktikan :
  1. Surat kabar London New Of The World tahun 1937 menyediakan hadiah $ 1000 bagi mereka sidik jari yang sama dengan sidik jari yang disayembarakan namun juga tidak ditemukan.
  2. William Jenings anggota Franklin Institute Philadelpia mengambil sidik jarinya sendiri pada umur 27 tahun ( 1887 ) kemudian membandingkan dengan sidik jarinya setelah berumur 77 tahun ternyata tidak terjadi perubahan.
  3. Tahun 1903 dipenjara Leavan Worth Kansas ditemukan kesamaan data antropometry, potret wajah dari dua orang negro bernama Will West dan Wiliam West tetapi sidik jari mereka berbeda.


Adapun beberapa pokok lukisan sidik jari yang ada pada manusia yaitu :